Ada kalanya kita sebagai manusia biasa merasa sedih, kacau, menderita dan berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. "Kenapa Tuhan memberikan dia kebahagiaan sedangkan tidak kepadaku?". Sangat gampang menyalahkan Tuhan ketika hal buruk menimpa kita. Tapi kita tak pernah ber kaca, "kenapa Tuhan memberikan ujian seperti ini?".
Bicara soal kebahagiaan, sebenarnya tak ada standar yg pasti tentang ukuran kebahagiaan seseorang. Seseorang yg memiliki fitur gadget terbaru, mobil mewah, fancy residence, karir cemerlang, banyak uang, apakah bisa dikatakan hidupnya bahagia?? Jika tolak ukur kebahagiaan seseorang adalah uang, kenapa masih ada selebritis yg mati bunuh diri? bukankah artis itu banyak uang?Namun tak bisa dipungkiri bahwa di jaman hedonis sekarang ini, tolak ukur kebahagiaan seseorang adalah uang. Ketika kau memilik banyak uang, maka semua dengan mudah akan kau dapatkan. Teman2, jabatan, barang2 mewah.
Aku bukan orang kaya. Aku hanyalah manusia biasa. Lantas apakah aku tak berhak bahagia?
Klise memang, ketika kau miliki banyak uang dan mampu membeli semuanya tapi kau tetap merasa tidak bahagia. Bagaimana dengan orang yg tak memiliki uang? Apakah uang itu hanya kebahagiaan semu? Jujur, ketika tak memiliki uang, aku merasa hidupku tak ada artinya. Untuk apa hidup, jika tak bisa membeli semua yg aku inginkan?Namun ketika bisa membeli semuanya,apakah ada jaminan akan bahagia? Rasanya sangat sedih ketika uang yg dikumpulkan dengan keringat dan darah tiba2 hilang begitu saja.Ini yg sedang kualami. Kehilangan yg sangat payah. Dan aku merasa kebahagiaan ku hilang bersama uang2 yg telah kuperjuangkan selama ini. Namun aku belajar satu hal atas kehilangan ini. Semua hal di dunia ini hanyalah titipan Allah. Begitu jg dengan uang.
Dan ketika Allah ingin mengambil semua milikNya, maka terjadilah. Meskipun harus sedih,menangis, meraung , berteriak toh uang itu gga akan balik lagi. Iya kan?
So.. i prefer to see my lost at the positive side. Mgkn aku selama ini kurang beramal, jadi ini semacam 'wake up alert' buat ke depan nya. Sebenarnya uang itu hanyalah angka, dan tak kan kubiarkan sisa hidupku untuk diperbudak oleh nominal angka. Walaupun skrg aku merasa sangat sedih , namun aku harus tetap berdiri tegak. Masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya. Dan setelah ku pikir2, bahagia itu bukanlah semata2 banyak uang.
Dibalik perenungan ku sekarang ini, aku sadar bahwa aku -lebih bahagia- ketika melihat senyum orang tua ku daripada ketika menerima uang Incentive dari kantor. Aku merasa bahagia ketika melihat keluarga ku utuh, bercanda bersama, berdoa bersama dan makan bersama. Hal indah itu tak kan pernah bisa dibeli dengan uang berapapun bukan? Uang yg hilang mungkin masih bisa dicarin dan dikumpulkan lagi, tapi senyum kebahagiaan dan kebersamaan itu tak kan pernah bisa tergantikan apapun.
Aku tak kan menyerah sekarang. Meskipun aku tak punya banyak uang (saat ini), tapi aku akan berusaha untuk tetap bahagia. I won't let that damn numbers of debt spoil my life.
Dan aku ingin mengutip sebuah tweet favoritku dari bang @Pandji :
"Bangga dan bahagia tidak ada hubungannya dengan jumlah kekayaan. Bangga berhubungan dengan pencapaian, bahagia berhubungan dengan keseimbangan".
Tetap semangat! Walaupun tak punya banyak uang! Kita tak pernah tau, kita akan menjadi apa esok hari.
Have faith... think positive...
No comments:
Post a Comment